Daniel
R.Cohn, Ketua Divisi Teknologi Plasma dari Plasma Science and Fusion Center
(PSFC), mengatakan bahwa penemuan tersebut merupakan suatu era baru bagi
pengurangan polusi kendaraan bermotor. Menurut Cohn : “Sukses perpaduan antara
plasmatron dengan mesin mobil, membuat langkah selanjutnya untuk pengujian di
jalan raya”. Menurut para peneliti, plasmatron bekerja seperti proses penyulingan minyak (oil refinery) yakni mengkonversikan
berbagai bahan bakar kedalam gas yang kaya akan hidrogen berkualitas tinggi.
Bahan bakar yang diinjeksikan kedalam plasmatrondibuka ke aliran listrik yang merubah bahan bakar dan udara
disekitarnya kedalam plasma. Plasma mempercepat laju reaksi dan menghasilkan
gas yang kaya akan hidrogen. Walaupun alat tersebut pada saat ini telah
digunakan dalam aplikasi industri, namun yang digunakan di industri jauh lebih
besar dibandingkan dengan versi MIT selain lebih boros energi dalam
mengoperasikannya.
Dr.Cohn menegaskan bahwa
merekalah yang pertama kali mengembangkan plasmatron dalam
ukuran kecil dan dengan daya yang rendah, yakni lebih kecil dari satu kilowatt.
Lebih lanjut Dr.Cohn menambahkan bahwa mereka pulalah yang pertama kali
mengaplikasikan dengan menambahkan alat tersebut ke mesin mobil untuk
mengurangi polusi kendaraan bermotor. Langkah selanjutnya adalah memasang plasmatron pada
kendaraan sebenarnya yang beroperasi di lapangan. Nantinya para peneliti
mengharapkan dapat menerapkan pemakaian plasmatron tersebut pada bus. Walaupun
pengujian yang dilakukan pada saat ini menggunakan mesin dengan bahan bakar
bensin, para peneliti mengatakan bahwa penemuan mereka berlaku juga bagi bahan
bakar diesel dan biofuels. Para peneliti mempunyai lima patent yang berhubungan
dengan plasmatron.
Pelitian tersebut disponsori oleh “DOE Office of Heavy Vehicle Technologies “.
Pelitian tersebut disponsori oleh “DOE Office of Heavy Vehicle Technologies “.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar