Para astrokimiawan dan
geokimiawan telah lama penasaran dengan fakta bahwa gas mulia xenon itu jauh
lebih sedikit ditemukan di atmosfir dan di kulit bumi dibanding di matahari
(dilihat dari spektrum sinarnya) dan meteor-meteor. Satu penjelasan yang
disodorkan adalah bahwa unsur ini tersembunyi dalam senyawa kimia yang
terbentuk pada temperatur dan tekanan yang sangat tinggi di inti bumi.
(Walaupun secara umum gas-gas mulia bersifat inert (tidak/sukar bereaksi dengan
zat-zat lain), sebagian dari mereka, terutama argon dan xenon dapat membentuk
senyawa kimia). Jules Verne, seorang novelis fiksi sains bangsa Perancis abad
ke-19 pernah menulis buku dengan judul “Journey to the Center of the Earth”
pada tahun 1864. Di dalam novel ini dia bercerita tentang seorang ilmuwan yang
menemukan jalan menuju ke pusat bumi melalui gunung berapi yang sudah tidak
aktif lagi. Ide yang dicetuskan Verne sangat maju untuk waktu itu. Bahkan
sampai sekarang pun, keinginan manusia untuk menjelajahi perut bumi sampai ke
dasarnya belum terealisasikan. Banyak para ilmuwan (termasuk kimiawan yang
penasaran ingin membuktikan penjelasan tentang xenon di atas) yang ingin dapat
ikut serta dalam penjelajahan tersebut kalau sudah ada kendaraan yang
diciptakan khusus untuk ekspedisi ini. Tetapi justru karena belum adanya
kendaraan inilah, para geokimiawan di University of California, Berkeley putar
otak untuk membuktikan penjelasan tersebut dengan cara lain. Satu tim ilmuwan
yang dipimpin oleh Wendel A. Caldwell dan Raymond Jeanloz mencoba membuat senyawa
kimia antara unsur besi dan xenon pada suhu 3000 K dan tekanan sampai 70 Gpa di
dalam diamond anvil cell yang dipanasi dengan laser. Mereka memonitor hasilnya
memakai teknik difraksi sinar X, yang pada prinsipnya adalah memonitor
perubahan jarak antar atom-atom. Walaupun mereka berhasil melihat perubahan
fase unsur xenon itu sendiri (yang biasanya memang terbentuk pada kondisi
ekstrim yang mereka tiru di lab), tetapi mereka tidak mendeteksi terbentuknya
senyawa antara xenon dan besi. Mereka pun menyelidiki lebih mendalam masalah
ini memakai teori-teori kimia yang mereka kuasai. Ternyata setelah
menghitung-hitung senyawa hipotesa xenon dan besi, mereka berkesimpulan bahwa
ikatan kimia yang terbentuk antara atom-atom Xe-Fe terlalu lemah dan energi
yang dihasilkan tidak dapat melepas ikatan Fe-Fe yang lebih kuat. Kembali ke
soal misteri “hilangnya xenon”, para ilmuwan tersebut akhirnya menyatakan bahwa
problem ini harus dijelaskan dengan mekanisme yang lain. Mereka berkesimpulan,
“pola keberadaaan gas-gas mulia ini sepertinya terbentuk sebelum bumi dan
planet-planet lain terbentuk secara sempurna; bukannya berubah setelah itu
karena terperangkapnya gas-gas di inti bumi”. [YM] (diterjemahkan dan disadur
dari artikel “Accouting for Missing Xenon”, G. Marc Loudon, Purdue University)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar